Thursday, December 15, 2005

My oh My..

Hari ini buka e-mail. Oh, My God!! Astaghfirullah... 1369 new messages. Last week... 1102 new messages. Diapusin banyak2.. sisa masih sekitar 720-an. Itu yang udah kebaca cuma sekitar 50-60 mail. Trus yang sekarang mo digimanain lagi ya? Diapus, takut ada yang penting. Dibaca semua?? O-o, jelas enggak mungkin sekali donks. So, ada saran gimana cara bacanya????


~ Maafkan untuk teman2 yang mengirim mail ke yentri. Amat sangat tidak bermaksud untuk sombong dengan tidak membalas email kalian... tapi apa dayaku.. huhuhu...
»»  Baca Selanjutnya...

Wednesday, December 07, 2005

When Love and Hate Collide..

Walaupun aku yakin warna mukaku tidak berubah merah, tapi tak dapat kupungkiri, kurasakan seluruh ototnya menegang. Dengan menekan jutaan perih yang menyergap dadaku, kuambil satu demi satu bagian kertas ujian yang baru saja dirobek-robek oleh salah seorang muridku.

“Kasih aja saya nilai nol, Bu. Gampang kan?! Ibu enggak perlu repot-repot nyuruh saya ngerjain latihan dan ujian”, tidak sedikitpun rasa bersalah kutangkap dari ucapannya. Justru kurasakan dia mengajukan surat tantangan kepadaku. Mungkin, dia sangat yakin kalau aku tidak akan berani menahan nilainya untuk keluar di pembagian rapor akhir semester ini. Aku terhenyak. Pernyataannya membuatku merasa gagal menjadi seorang pendidik, bukan sekedar pengajar.

Kusadari, aku mungkin bukan guru yang baik, walaupun aku tetap berusaha untuk itu. Lulusan IKIP atau bukan, menurutku tidak akan menentukan kualitas pengajaran yang diberikan oleh seorang guru kepada anak didiknya. Tapi yang aku tahu jelas, aku memang belum pernah mengajar. Beberapa kali memberi tambahan pelajaran kepada anak-anak SMP dan SMA rasanya tidak akan bisa disamakan dengan menjadi seorang guru di sekolah. Jelas, aku memang belum berpengalaman, apalagi dalam hal mendidik anak-anak ‘istimewa’, seperti mereka yang dengan suka hati melempar batu bata ke teman-teman yang mencandainya, atau mereka yang tiba-tiba saja terdiam di pojok kelas dan menangis tersedu, atau mereka yang dengan sengaja merobek kertas ujian di depan guru yang memberikannya!

“Ibu sih, kelewat sabar dan baik. Orang kayak dia sih dihukum aja, Bu. Suruh lari keliling lapangan sekolah kek, ato suruh ngebantuin ngeberesin sampah organik selama seminggu”, kata anak muridku yang lain, mencoba memberi saran.

“Iya, Bu. Suruh aja dia kerjain lagi ujian itu, trus bikin laporannya diketik lengkap pake komputer, beserta uraiannya. Biar kapok tuh!” usul yang lain. Aku hanya tersenyum.

“Tau enggak sih, saya tuh enggak butuh nilai kalian. Kalo kalian mau, bisa aja saya kasih semuanya nilai 8 di rapor. Tapi, apa kalian bisa tahan dengan kebohongan seperti itu? Yang saya inginkan, kalian paham dan bisa menggunakan apa yang kalian pelajari dalam kehidupan kalian, saat ini atau mungkin nanti. Tanpa kalian sadari, nilai itu bisa membuat kalian memberikan citra kepada diri kalian sendiri, dan terkadang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Ingat kan, You are what you think you are!” jawabku panjang lebar.

Aku memang tidak terlalu ingin menilai pemahaman seseorang dengan skala angka, walaupun terkadang memang hal itu tidak bisa dihindari. Justru menurutku, angka tertinggi adalah ketika ilmu yang dipelajarinya itu dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupannya. Nak, saya tidak butuh nilaimu!!

Tapi dalam hati, kuakui juga bahwa usulan mereka ada benarnya. Jika didiamkan, pasti dia akan mengulangi kembali melakukannya. Bimbang... Tiba-tiba saja rekaman pembicaraan dengan ibunya di awal semester lalu terulang kembali di kepalaku.

“Saya minta maaf Bu, tapi anak saya ini memang emosinya sangat labil. Sedikit saja pemicu yang membuatnya tidak nyaman, dia bisa menangis meraung-raung, menjerit atau melempar barang-barang. Dia pernah mengalami satu kejadian yang membuatnya depresi berat” cerita ibunya dengan wajah sendu waktu itu. Aku yakin pasti sedih, mendapati anak kebanggaannya agak sulit untuk diterima dalam lingkungannya, termasuk lingkungan pendidikan. Setidaknya, kepindahan sekolah yang lebih dari dua kali, sudah memaksanya menerima keadaan sang anak, siap ataupun tidak. Yang aku tidak habis pikir, kenapa orang tuanya tidak berinisiatif menemui psikolog untuk mengobatinya? Ah sudahlah, aku tidak ingin tahu rahasia dapur orang lain. Mereka pasti telah memikirkan yang terbaik untuk anak mereka.

Sebenarnya aku dan guru-guru yang lain pun merasa berat untuk menerima kenyataan ada anak-anak ‘istimewa’ di antara murid-murid kami. Sekolah kami memang agak berbeda dari yang lain, tapi tetap saja belum sepenuhnya bisa menerima kekhususan yang terlampau khusus.

Jujur saja, aku tidak pernah keberatan untuk bercanda dengan anak-anak, malahan aku menikmatinya. Bahkan terkadang, akupun ikut bermain sepakbola dengan mereka di halaman sekolah. Walau sudah bisa dipastikan aku hanya menjadi penyemangat dan pengawas garis. Anak-anak nakal, itu hal yang wajar. Mereka memang masih dalam perjalanan untuk menjadi diri mereka yang seutuhnya! Character building masih berproses dan tarik-menarik antara norma positif dan negatif masih sangat mendominasi. I’ve been there before. Aku tahu bagaimana besarnya keinginan mereka untuk dihargai dan dipandang sebagai “AKU”.

Hanya saja, aku masih menduga-duga hingga hari ini, kenapa anak itu berulah hanya di kelasku? Tepatnya, lebih sering di saat aku mengajar. Mungkinkah…

Kutepis segala kemungkinan yang bermain di kepalaku. Aku tidak ingin memelihara prasangka terhadap anak didikku sendiri. Kubereskan kertas-kertas kerja yang sudah menunggu untuk aku selesaikan. Saatnya shalat Ashar, aku harus mencari pencerahan hari ini…



--------
* Ini fiksi ato bukan, hayoooo ...??!! Guess..
Yang jawabannya bener, nanti aku kasih hadiah... Ucapan SELAMAT dan TERIMA KASIH!! ^_^
»»  Baca Selanjutnya...

Monday, November 07, 2005

Ketakbiasaan yang Menjadi Biasa

Sore itu aku dikagetkan oleh seekor makhluk yang melintas tiba-tiba di depan jalan masuk menuju rumahku. Makhluk itu bernama kucing, dan anehnya (loh, ANEH??) kucing itu menggigit seekor tikus yang tidak berdaya... Aneh? Ya, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa melihat seekor kucing yang makan dari piring, dengan menu yang sama dengan manusia: Nasi+Lauk+Sayur!! Hmm.. jaman memang sudah jaaaaaauuuuh berubah sejak Tom & Jerry diciptakan ^_^

Lalu aku termenung, apakah gerakan Tarbiyah pun mulai menggejala: Ketakbiasaan yang menjadi biasa? Lalu.. sesuatu yang biasa itu pun kehilangan ruh-nya, karena kebiasaan itu bertransformasi menjadi suatu trend, tidak terjiwai! Dan kebiasaan itu berubah menjadi suatu keharusan, bukan motivasi pribadi!

Tapi, pada awalnya.. bukankah kita masing-masing harus dipaksa untuk beramal? Selanjutnya.. terserah anda!

Innamal a'maluu binniyat. Wa innama likullimriim maa nawaa'
Semua amal itu bergantung dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari)
»»  Baca Selanjutnya...

Sunday, November 06, 2005

Idul Fitri

Assalamu’alaikum...

Selamat datang Syawal, selamat tinggal Ramadhan...
Ya Allah, perkenankan kami berjumpa dengan Ramadhan-Mu tahun depan


Menyambut semburat fajar Syawal di cakrawala, Kami mengucapkan:
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Semoga Allah SWT berkenan menerima semua amal ibadah dan shaum kita, amiinn.
Dari lubuk hati yang paling dalam, kami mohon dimaafkan segala kekhilafan.

Selamat Idul Fitri 1426 H


Wassalamu’alaikum...

Yentri&Basit sekeluarga
»»  Baca Selanjutnya...

Sunday, October 09, 2005

Katanya!

Katanya.. pernikahan yang barokah bisa terlihat dari tersambungnya tali silaturahim antara kedua keluarga
Katanya.. pernikahan yang barokah bisa tampak dari semakin membaiknya kualitas dan kuantitas ibadah manusia-manusia yang dinaungi pernikahan tersebut
Katanya.. pernikahan yang barokah tercermin dari tingkah laku anak-anak yang akan dilahirkan
Katanya.. pernikahan itu adalah kenikmatan sekaligus keluarga juga merupakan ujian bagi ketaqwaan kita
Katanya juga.. pernikahan itu tidak melulu kesenangan, tapi pasti ada karang terjal dan gelombang yang dapat menghempaskan sampan kecil kita ke pulau tak bertuan
Katanya... dan berjuta katanya yang pernah saya dengar, baca atau saksikan (?), dan baru akan coba saya rasakan dan buktikan kebenaran/ketidakbenarannya.

Berjalan tiga bulan sudah usia pernikahan kami. Belum banyak yang bisa saya ceritakan disini. Toh, saya pun baru mulai menyelami persamaan dan perbedaan yang ada di antara kami.

Cinta?? Seorang sahabat berkata: Cinta itu bisa ditumbuhkan!! Dan hal itu juga yang saya percayai. Seorang laki-laki yang bahkan belum pernah saya dengar namanya, apalagi melihat wajahnya.. tiba-tiba saja disodorkan tawaran untuk menjadi belahan jiwanya, menyempurnakan sebagian agamanya. Subhanallah, antara bingung, rasa tidak percaya, senang dan takut bercampur aduk di dalam hati dan pikiran. Bismillah.. saya beranikan untuk mengambil pilihan ini, saya hanya ingin menjaga kesucian diri dan agama, menghindari fitnah yang bisa ditimbulkan karenanya.

Cinta?? Ya, mungkin perasaan itu mulai tumbuh perlahan. Perasaan tidak ingin menyakiti hatinya, ingin selalu membahagiakannya, ingin mendukung setiap perbaikan dirinya, perasaan sedih saat beliau bersedih, perasaan senang saat dirinya mengalami kebahagiaan, dan satu perasaan penting yang beberapa saat lalu saya rasakan: Kekecewaan ketika membuat orang yang kita sayangi kecewa.


..to be continue..
»»  Baca Selanjutnya...

Wednesday, September 14, 2005

Tumbuhlah..

Benih yang setiap hari disiram, belum tentu akan tumbuh dengan baik.
Ia butuh disinari oleh cahaya sang Mentari,
untuk membuatnya bernafas dengan sempurna.
Ia pun butuh dinginnya malam dan kuatnya terpaan angin,
agar semakin kokoh dahan dan rantingnya.
Kemudian suplemen pupuk yang diberikan dengan porsi yang tepat,
akan menjadikannya sehat dan menjaga vitalitas kehidupannya.
Ia juga butuh kasih sayang, karena ia memiliki 'jiwa'.

Lalu, suatu hari...
Tak hanya buahnya yang manis dan mengenyangkan,
tapi juga setiap bagian dari tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh makhluk lain.

Bukankah itu salah satu cita kita? nafii'un li ghoirihi.. bermanfaat bagi lingkungannya. Hingga tanpa terbantahkan, predikat Uztadziyatul a'lam (Guru dari peradaban) akan kita sandang tanpa perlu diminta.

Wallahua'lam.
»»  Baca Selanjutnya...

Blog and Reality

Dah lama engga nulis disini, kangen juga neeeh... Subhanallah, cepet banget ya waktu berlalu. Emang bener deh pepatahnya orang Arab. Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha'haa qath'aka (Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebasmu).

Padahal saya pingin menjadikan blog ini tempat komunikasi dengan sahabat-sahabat tersayang, yang tidak bisa setiap saat bertukar cerita, berharap dengan postingan-postingan saya disini, bisa sedikit mengobati kerinduan, sekaligus terus memperpanjang tali silaturahim. Tapi, makhluk dhoif ini ternyata lebih sering merasa 'sibuk' daripada banyak waktu luang. Astaghfirullah.. semoga kesibukan yang bermanfaat ya..

Insya Allah saya akan kembali meng-intens-kan kegiatan menulis saya, tentunya juga meng-update blog ini. Pfiuuuh... sebenernya banyak lintasan pikiran yang jika direnungkan sedikit dalam, maka akan berbuah menjadi tulisan yang baik, ya.. semoga Allah memberi kekuatan kepada hati dan fikiran saya untuk berbagi hikmah kepada sahabat melalui rangkaian kata... :)
»»  Baca Selanjutnya...