Tuesday, April 05, 2005

Dari Siapa?

Saat aku tiba di kantor pagi ini, di atas keyboard komputerku tergeletak dengan manis sebuah buku (jelas banget koq dari bentuknya..) yang disampul rapi dengan kertas kado lucu berwarna hijau. Dari siapa ya? Ulang tahunku kan udah lewat hampir 2 minggu... Tertulis di atas hadiah itu:

To: Mpo' Yentri
"Semoga Bermanfaat yee.. jangan lupa dibaca looo..!!!"
(mudah-mudahan belom punya)
From: 'Anak Kecil ^_^'

Hmm, pesannya membuatku tersenyum simpul. Isinya sebuah buku tentang wanita.. Subhanallah..
Kubuka fasilitas jabber-ku. Lalu kuketikkan pesan offline untuk si 'anak kecil'. Tapi ternyata beliau baru membalas message-ku saat sore..
--

[y][08:06] assalamu'alaikum, anak kecil... syukron katsir atas hadiahnya ya. jazakallahu khairan katsira, semoga dibalas dengan yang lebih baik dan lebih banyaaaaaaak... aaaamiiiin atas semua doa'nya :-D
[m][16:05] Assalamu'alaikum.
[y] wa'alaikum salam :-D
[m] Mba, tadi pagi Mba bilang...anak kecil? Hadiah? Maksudnye apaan Mba..???? I'm confused....!!!!
[y] :-)
[m] :"(
[y] makasih ya..
[m] Nah loh....tambah bingung neh. Maksudnye apaan seh...?? Please tell me...???
[y] gapapa kalo bingung juga, poko'nye makasih.. hahhhh? nah loh? trus yang tadi pagi naro hadiah di meja yentri sapa dooong? koq berani2nya pake nama *m*? adakah *m* yang lain... :-x ?
[m] NAro hadiiiah...??? Pagi2...??? Truz pake nama ane...??? Duh tambah bingung laaaagiii neh...??? Maksudnye apaan seeeeehhhh....?????
[y] ya udah engga usah dibahas. eh, serius engga nih?
[m] Aku dua rius Mba....!!! Soalnya aku itu ngga naro diatas meja, tapi diatas Keyboard........=>
[y] Mauuuuuuulll !!! ih, nyebelin banget sih.. huuuuu... syukron ye... :-P
[m] Apaaaaaaan? Sami-sami Mba.....dah punya blom, klo belom syukur deh. Jangan lupa.....DI....BA....CA....!!!!!!
[y] insyaAllah... ketauan ya.. pasti beli di Islamic Book Fair kemarin kan?

--
Hihihi, buat 'anak kecil' yang enggak kecil lagi. Jazakallah khair ya, akhi..
»»  Baca Selanjutnya...

Cahaya yang Tak Teraih

Publikasi: 06/04/2005 08:09 WIB

eramuslim - Padahal Rasulullah SAW pun tidak dapat mengajak Pamannya sendiri ke dalam nikmat ber-Islam. Padahal Nabi Luth dan Nabi Nuh as. pun tidak dapat menggandeng istri mereka dalam indahnya cahaya hidayah. Padahal Asiyah - yang telah dijanjikan Allah akan dibangunkan rumah di surga - pun, tidak dapat mengajak Fir'aun, suaminya sendiri, untuk menempati rumah yang sama. Lalu, apakah kita berhak memaksa Allah untuk menebarkan hidayah itu di hati keluarga kita?

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."
(QS. Al-Qoshosh: 56)

--
Bagaimana perasaan kita ketika membaca berita di koran tentang seorang pecandu yang terkena AIDS atau seorang wanita yang hamil di luar nikah atau seseorang yang mati bunuh diri atau mereka yang mendekam di penjara karena predikatnya sebagai maling? Apakah kita akan merasa sedih atau simpati kepada mereka? Ataukah justru kita berpikir, "Ih, salah dia sendiri dong. Rasain tuh akibatnya!". Mungkin juga kita hanya menyenandungkan istighfar sambil menyesalkan semakin jauhnya ummat ini dari hal-hal yang telah disyari'atkan-Nya.

Memang, itu adalah kesalahan mereka sendiri. Mereka sendiri yang telah memilih untuk menggunakan obat-obat laknat itu, memilih untuk berzina, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, memilih untuk mengambil apa yang bukan haknya. Itu memang benar, mereka sendiri yang memilih menjalani kehidupan seperti itu. Dan untuk pilihan itu, mereka juga yang harus menanggung konsekuensinya, sebagai azas kausalitas yang tidak bisa dibantah.

Tapi ternyata, ketika kejadian yang sama menimpa keluarga kita, sikap yang sama tidak dapat kita hadirkan. Tiba-tiba semua orang terdiam, semua mata basah oleh airmata. Jangankan berpikiran "Salah sendiri", rasanya dunia seakan kiamat. Terngiang di telinga firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahriim: 6). Masalah sudah menjadi demikian kompleks untuk menelusuri siapa yang salah dan siapa yang benar. Semua mengambil peranan di dalamnya. Orang tua, kakak, adik, sepupu, om, tante.. semua ikut bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Minimal, mereka ikut berperan dengan sikap ketidakpedulian mereka.

Sedih, sangat. Apalagi jika hal itu terjadi pada anggota keluarga seorang aktivis dakwah. Ketika Sang Da'i sibuk berkoar-koar di luar, mengisi pengajian, tabligh, atau menjadi orator.. ternyata apa yang diserukannya untuk ditinggalkan, justru dikerjakan oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Istilah 'Sholih tapi tidak mensholihkan' mungkin adalah gelar yang cocok untuk Sang Da'i. Ungkapan seperti "Ah, anaknya si Ustadz itu saja masih merokok dan minum-minuman keras" atau "Tuh, adiknya si Pak Haji anu kemarin diajukan ke pengadilan karena ketahuan korupsi" mewarnai penilaian masyarakat tentang dakwah yang timpang sebelah ini. Tidak jarang pula, penilaian inilah yang membuat masyarakat menjadi phobi terhadap dakwah mereka selanjutnya.

Menyandang label sebagai seorang penyeru kebaikan memang tidak mudah. Dakwah kita diterima masyarakat lebih sering bukan hanya karena apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita kerjakan. Begitupun dengan keluarga. Parameter bagi kesuksesan dakwah seorang Da'i salah satunya adalah dari kondisi keluarganya. Merupakan hal yang wajar jika masyarakat ingin menilai seberapa jauh keberhasilan seorang 'marketer' Islam dalam membidik lingkar terdekat pergaulannya sehari-hari. Walaupun dalam kacamata marketing juga dikenal adanya suatu skala prioritas, untuk mengarahkan sebagian besar potensi kepada segmen market yang peluangnya lebih besar untuk menerima apa yang kita jual, dan tidak selalu keluarga kita memenuhi kriteria tersebut.

Lantas, haruskah kita berhenti berdakwah ketika kondisi keluarga kita belum 'Islami'? Salahkah seorang Da'i yang berusaha merangkul orang lain sementara keluarganya masih berada dalam lingkup jahiliyah? Salahkah? Ya, mungkin memang salah, jika beliau sama sekali tidak berusaha mengingatkan mereka tentang adanya pahala dan dosa, tentang adanya surga dan neraka, tentang azab dan nikmat. Memang salah, jika beliau hanya bermaksud menjadi soleh sendirian. Bukankah Allah telah berfirman: "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan." (QS. Al-Ghaasyiyah: 21). Tugas kita sebenarnya hanyalah sampai pada tahap mengingatkan. Lalu sisanya adalah wilayah kekuasaan Allah untuk menentukan apakah orang yang kita beri peringatan tersebut akan dipilih-Nya sebagai penerima hidayah atau tidak, walaupun notabene adalah keluarga kita sendiri. Kita hanya bisa berikhtiar sambil terus mendo'akan mereka..

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya..." (QS. Al-Baqarah: 272)

Wallahu a'lam bis-showab
---

Bogor, 300305 as My condolences..

*) I was about to write this article to give a moriil support for him, but it turns out I have to write this 'coz I missed his funeral..
»»  Baca Selanjutnya...

Tiga Sungai

Tausiyah di pagi hari dari seorang sahabat..
---

Allah SWT telah membuat tiga sungai untuk membersihkan tubuh orang-orang yang berdosa. Jika ketiga sungai itu belum cukup maka Allah akan membersihkannya di sungai jahanam. Ketiga sungai itu adalah :

Pertama, sungai taubatan nasuha; yaitu melepaskan segala perbuatan dosa dan berjanji tidak akan mengulangi lagi,

Kedua, sungai hasanat; yaitu kebaikan-kebaikan yang akan mengubur semua bentukkeburukan.

Dan Ketiga, sungai mushibah azhimah; yaitu bencana atau ujian yang besar yang akan melebur setiap dosa.

Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba-Nya Ia akan memasukannya ke dalam salah satu sungai tersebut, hingga ia akan datang kepada-Nya di hari Kiamat dengan tubuh yang suci dan bersih dan tidak perlu dimandikan di sungai keempat (sungai jahanam)

(Ibnul Qayyim Al Jauziyah)
»»  Baca Selanjutnya...

Sunday, April 03, 2005

Tawakkal

Mencoba bertafakkur...

"... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)
»»  Baca Selanjutnya...

Tuesday, March 29, 2005

Bukan Sekedar Keinginan

Publikasi: 30/03/2005 08:36 WIB

eramuslim - Akhir-akhir ini banyak dari sahabatku yang bertanya tentang rencana pernikahanku. Pertanyaan seperti "Jadi kapan nih, mau nyebar undangan?" dan sejenisnya, terus melandaku melalui telepon, sms, layar-layar messenger di komputerku, bahkan pertemuan-pertemuan kami rasanya tidak lengkap tanpa mereka menanyakan hal itu. Tadinya aku hanya diam dan tersenyum menjawabnya. Aku berpikir, "Sudahlah, nanti juga mereka bosan sendiri." Toh, kalau memang waktunya sudah sampai, kabar bahagia itu pasti tidak akan aku simpan. Bosan juga sebenarnya untuk membahas masalah ini. Kata seorang sahabat, pernikahan itu bukan untuk didiskusikan, tapi untuk diamalkan. Tapi, jika diskusi itu dalam rangka mempersiapkan diri, mungkin tidak ada salahnya ya?

Menikah, siapa sih yang tidak ingin? Sebagai seorang manusia yang mempunyai kebutuhan psikologis dan biologis, wajar rasanya jika kita menginginkannya. Mereka bilang, menikah itu membuat jiwa menjadi tenang, dan pikiran lebih terarah. Apalagi Baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa menikah merupakan sunnah beliau, yang mana sunnah ini akan menggenapkan separuh dari agama kita. Bahkan Rasulullah SAW menjamin bahwa seseorang yang ingin menikah untuk menjaga kehormatannya, termasuk dalam 3 golongan yang Allah wajib untuk menolongnya. Tidakkah sebagai seorang muslim yang baik, janji Rasul ini sangat menggiurkan?

Hmm.. Cinta, tema yang sangat mendunia. Setiap orang pasti pernah mencintai dan dicintai. Cinta kepada orang tua, suami/istri, saudara, anak-anak, sahabat, guru, dan masih panjang lagi daftar nama orang-orang tercinta kita. Ya, cinta itu memang telah dianugerahkan Allah kepada manusia.
Sabda Rasulullah SAW: "Allah memiliki 100 bagian Rahman (kasih), yang satu bagian disebarkannya ke seluruh dunia sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut menginjak anaknya yang baru lahir ..."
Pernikahan adalah satu-satunya cara yang dihalalkan dalam Islam bagi seorang perempuan dan laki-laki non muhrim untuk menjalin cinta dan kasih.

Tapi menikah itu tidak semudah membalik telapak tangan. Ia adalah proses yang mudah tanpa harus dimudah-mudahkan, sekaligus merupakan suatu proses yang sulit tanpa harus dibuat rumit. Saat seorang laki-laki menyambut pernyataan menikahkan dari seorang wali perempuan dalam ijab kabul pernikahan, saat itulah dimensi baru bagi keduanya dimulai. Seorang perempuan dalam sekejap mempunyai predikat baru sebagai seorang istri, dan seorang laki-laki akan berubah status menjadi seorang suami. Status baru yang mungkin belum terbayangkan sama sekali bagi mereka. Status yang dibelakangnya mengekor beribu konsekuensi yang baru juga.

Ketika kita memutuskan untuk menikah, seharusnya kita telah bersepakat untuk mempertemukan tidak hanya seorang laki-laki dan perempuan, tapi juga dua pemikiran, dua sudut pandang, dua karakteristik, dua kebiasaan, tak lupa juga bahwa kita telah menikahkan dua keluarga besar dan dua kebudayaan. Ibarat sebuah pepatah: Lain ladang, lain belalang. Perbedaan itu pasti akan ada. Maka siap menikah berarti kita siap untuk menerima perbedaan. Perbedaan itu adalah suatu sunatullah, lalu kenapa kita harus takut untuk berbeda? Sekali lagi, menikah adalah kesiapan untuk menerima perbedaan, kemauan untuk berubah, keinginan untuk mengenal lebih jauh, kesiapan untuk menerima pasangan kita apa adanya dan kesediaan untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi mengedepankan kepentingan dan kebutuhan bersama.

Bukan sekedar keinginan, menikah membutuhkan persiapan yang tidak mudah. Bahkan, ketika pernikahan itu sudah terlaksana pun, proses pembelajaran itu harus tetap kita lakukan. Ada suatu perbedaan besar yang harus kita sadari antara penggunaan kata 'ingin' dan 'siap'. Suatu keinginan yang tidak diikuti oleh proses mempersiapkan diri, ia hanya akan berakhir sebagai suatu mimpi kosong di siang bolong. Sementara, parameter kesiapan setiap orang hanya dirinya dan Allah saja yang tahu. Pun ketika kita melihat seorang laki-laki atau perempuan yang kita anggap cukup siap untuk menikah, ketika keinginan itu tidak tumbuh dalam diri mereka, maka pernikahan itu akan sulit untuk terealisasi. Tentunya, tanpa menafikkan bahwa semua itu berada dalam wilayah kekuasaan Allah. Yaitu untuk menentukan kapan kita akan menikah, dimana, dengan siapa, dan dalam kondisi seperti apa, hanya Allah yang mampu menjawab itu semua...

Ya, semoga pernikahan bukan hanya menjadi keinginan kita belaka, tapi merupakan sesuatu yang kita upayakan dapat terlaksana dalam koridor syari'at-Nya.


--
Terinspirasi dari tulisan dan diskusi dengan Teteh-ku chayank ...

Dedicated to my becoming Prince, which I don't know yet who it will be ^_^
»»  Baca Selanjutnya...

Monday, March 28, 2005

Terlalu..

Terkadang diri ini merasa begitu kurang ajar!!
Ketika kebutuhan hidup begitu menggebu, ketika masalah seakan menggedor-gedor ruang pikiran, barulah kita mengambil air wudhu dan menegakkan sholat dua rakaat dengan penuh kekhusyu'an.
Ketika tangis kepedihan belum dapat kita hentikan, ketika rasa takut dan cemas bercampur aduk dalam memperkeruh hati, barulah Al-Qur'an kita senandungkan dan rangkaian do'a tak putus kita panjatkan.

Sungguh, sangat kurang ajar rasanya diri ini..
Kemana khusyu' itu ketika nikmat melimpah di hadapan? Kemana airmata itu ketika kelapangan tengah dirasakan? Kemana untaian doa itu ketika kesenangan sedang melingkupi? Kemana senandung firman-Nya ketika bahagia merangkul jiwa?

Sungguh, jikalah Allah laksana manusia yang pendendam, pastilah semua kekhusyu'an, airmata, doa, tilawah, sudah lebih dulu tertolak sebelum kita sempat melaksanakannya. Hanya sifat Rahman dan Rahim-Nya yang membuat kita masih bisa mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Hanya karena sifat Ghafar dan Ghafuur-Nya yang membuat Allah berkenan menghapus semua kekhilafan kecil kita.

Astaghfirullah.. Rabb, ampuni hamba-Mu yang lemah ini..
»»  Baca Selanjutnya...

Thursday, March 24, 2005

Pertemuan dan Perpisahan

...
Pertemuan yang membawa kepada pertemuan selanjutnya
Lalu pertemuan yang berujung pada suatu perpisahan
Perpisahan yang kemudian membawa kepada pertemuan baru
Adakah yang bisa kita pungkiri dari itu semua?


*) Menjelang suatu pertemuan dan perpisahan...
»»  Baca Selanjutnya...